Senyum tidak selalu bahagia..
Menangis belum tentu sedih..
Orang lain terlalu cepat menilai, dan perasaan kita yang sebenarnya adalah apa yang mereka lupakan..
Kenapa mawar jadi simbol cinta? Kenapa yang dikenal hanya merah saja? Kenapa digenggam sakit durinya?
Aku baru saja memasuki tirai kepala dua, dan kudapati dunia ini penuh tipu daya.
Apa hanya aku, yang terlalu peka dengan aroma kepalsuan mereka?
Hari itu kulihat kawanku tersenyum kemudian berlalu.. saat kulihat punggungnya ternyata dia tidak benar-benar tersenyum padaku.
Hari berikutnya seorang kawan datang padaku mengiyakan semua pendapatku, namun lalu ia pergi ke sisi lain dan men-tidak-kan semua perkataanku.
Kenapa pelukan terasa hangat, sedangkan diam terasa dingin?
Lalu bagaimana jika itu adalah pelukan terakhir?
Akankah masih terasa hangat?
Semua orang berteriak..
Siapa yang salah? Siapa yang benar?
Apakah kebenaran yang dicari?
Ataukah kebenaran sudah ditemukan namun tak ada yang sanggup menerimanya?
Aku sudah lama tau namun aku baru menyadarinya.
Saat tanganku berdarah karna terlalu erat menggenggam mawar yang ternyata berduri tajam, tak satupun yang pantas kuraih atau bahkan kusalahkan..
Mawarku layu, durinya tak lagi tajam.
Kemudian aku tau, bahwa ada beberapa kerusakan yang tak dapat diperbaiki.
Dan permintaan maaf yang tidak untuk dimaafkan..
Aku tertawa dan tak ada satupun yang menyadari apa yang benar-benar aku rasakan.
Aku tertawa, dan perasaanku yang sebenarnya adalah apa yang mereka lupakan..
Menangis belum tentu sedih..
Orang lain terlalu cepat menilai, dan perasaan kita yang sebenarnya adalah apa yang mereka lupakan..
Kenapa mawar jadi simbol cinta? Kenapa yang dikenal hanya merah saja? Kenapa digenggam sakit durinya?
Aku baru saja memasuki tirai kepala dua, dan kudapati dunia ini penuh tipu daya.
Apa hanya aku, yang terlalu peka dengan aroma kepalsuan mereka?
Hari itu kulihat kawanku tersenyum kemudian berlalu.. saat kulihat punggungnya ternyata dia tidak benar-benar tersenyum padaku.
Hari berikutnya seorang kawan datang padaku mengiyakan semua pendapatku, namun lalu ia pergi ke sisi lain dan men-tidak-kan semua perkataanku.
Kenapa pelukan terasa hangat, sedangkan diam terasa dingin?
Lalu bagaimana jika itu adalah pelukan terakhir?
Akankah masih terasa hangat?
Semua orang berteriak..
Siapa yang salah? Siapa yang benar?
Apakah kebenaran yang dicari?
Ataukah kebenaran sudah ditemukan namun tak ada yang sanggup menerimanya?
Aku sudah lama tau namun aku baru menyadarinya.
Saat tanganku berdarah karna terlalu erat menggenggam mawar yang ternyata berduri tajam, tak satupun yang pantas kuraih atau bahkan kusalahkan..
Mawarku layu, durinya tak lagi tajam.
Kemudian aku tau, bahwa ada beberapa kerusakan yang tak dapat diperbaiki.
Dan permintaan maaf yang tidak untuk dimaafkan..
Aku tertawa dan tak ada satupun yang menyadari apa yang benar-benar aku rasakan.
Aku tertawa, dan perasaanku yang sebenarnya adalah apa yang mereka lupakan..
Komentar
Posting Komentar